Asal JalanJam dua belas siang, panasmatahari menyengat bagai jilatan api, melepuhkan lapisan-lapisan kulit sertamemupus habis harapan yang memang sudah aus. Tapi sekawanan makhluk bumi masihbertahan,  berjuang melawan derasnya arus kehidupan. Tidak ada tempat untuk beteduh,sementara angin hanya bertiup sesekali. Peluh-peluh mereka jatuh dan menyatudengan tanah kering. Rasa gerah datang mendera, tapi cerita ini baru akandimulai. Bila kenyataan terlalu kuat untuk ditaklukkan, barangkali egolah yang harus ditepis sejauh mungkin.Memuntar balik perspektif, agar senyum tetap bisa diuntai, dalam kondisi yangtidak nyaman sekali pun.

Mereka masih di lokasi pembuangansampah. Bau busuk-beracun mematikan saraf-saraf hidung sampai ke otak. Bagimereka bertiga, kondisi semacam itu terlalu sederhana untuk dihindari. Telahbanyak waktu yang dihabiskan untuk mengais sampah dengan sepotong besi tua yangpenuh karat. Plastik, kertas atau apapunyang bisa dibawa ke “pengumpul” dimasukkan ke dalam karung yang memang sudah sangatakrab dengan bau punggung mereka. Barang-barang bekas itu didaur ulang menjadi barang-barang baru lewat teknologi dan pabrik-pabrik industri.Tapi mengapa tidak ada sistem yang bisamendaur anak-anak pemulung menjadi generasi-generasi potensial, penggerak jaman.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Di mana arti sebuah keadilan, mungkinkah sedang beradadi balik ketiak para penguasa yang selalu tampil bak pahlawan di atas padang pasir yang telah bercampur darah.Mereka masih terus berpacudengan gerak “gila” yang semakin menggila danmenggilas impian. Semangat untuk membeli sebungkus nasi dan segelas air mineralmembuat mereka tetap bertahan. Padahal, anak-anak seusia mereka sedang asikdengan hangatnya kasih sayang orang tua, bermain di taman-taman sekolah, atausekedar beristirahat di rumah dengan interior yang serbah indah.

Terlalu banyakyang keliru, ekses dari sebuah pembangunan dengan tema modernisasi namun kehilangan makna. Di antara cerobong asappabrik industri dan gedung-gedung pencakar langit, di selagemerlap dan mehahnya fasilitas kaum elit, mereka justru hidup sebagaikomunitas terpinggirkan, mirip populasi kecoak yang terusik oleh arogansituan-tuan tanah yang tak ber-nurani.”Yo’, waktunya istirahat!”Esa mengajak dua orangtemannya, Pio dan Ara.

“Akh…kamu…, kaya pejabatsaja, sebentar-sebentar maunya istirahat, kapan bisa menunaikan tanggung jawabkalau begitu.”Pio menyela ucapan Esa, meskikerutan keningnya juga telah menyiratkan rasa letih yang amat sangat. “Tapi aku sudah letih sekali, perutku juga sudahsangat lapar.”Tanggap Esa dengan kerutankening yang sama.

“Iya sebaiknya kitaistirahat, sebentar bisa dilanjutkan lagi, setahun bekerja tanpa istirahat di sini juga tidak bisa membuat kita kaya.”Ara ikut berkomentar, sepertinya Ara lebih sepakat denganucapan Esa. Tentu saja hal itu membuat Pio harus mengalah. Andaipun salah, duasuara temannya harus tetap dihargai. Bertahan dengan pendapat sendiri berartiegois, dan egois sama halnya melanggar kontrak pesahabatan mereka.Tanpa berdebat panjang lagi,Ara, Pio, dan Esa segara beranjak meninggalkan gundukan-gundukan sampah, yangbila disadingkan dengan dunia manajemen, maka gundukan-gundukan sampah itulahyang menjadi kantor pusat mereka dalam mencari kepastian hidup. Seperti biasa, mereka selaluberistirahat di bawah pohon akasia yang berdiri kokoh dengan ranting dandedaunannya yang rimbun.

Jaraknya hanya beberapa meter dari bantaran rel keretaapi, tepatnya di ujung jalan setapak menuju sebuah sungai. Selain dianggapnyaman, tempat itu juga mengharuskan melewati kios Ibu Indah, Di situ mereka bisa singgah untuk membeli sesuatu yangbisa mengganjal perut, agar tidak selamanya diwarnai dengan rasa lapar dandahaga. Di bawah pohon Akasia itulahkehidupan bisa dirasakan sebagai kemerdekaan.

Hanya dalam hati, semua perangbisa dimenangkan. Bermain, berteriak, bercerita dengan tema kebebasan, atauberbaring sambil menghayalkan suasana nyaman di kamar-kamar hotel berbintangdan mencicipi nikmatnya menu-menu ala koki luar negeri di restaurant terkenal.Semua bisa dilakukan tanpa harus mengurus adminstrasi atau membayar layaknya dikantor-kantor pelayanan masyarakat yang katanya gratis.

Raga boleh terjajah,tapi biarkan imajinasi tetap terbang seperti ElangBuana yang menikmati kebebasannya di angkasa. Di sanalah kastil mereka, karenamereka hanyalah pangeran jelata dari kerajaan yang terjajah.Setelah memuntahkanekspresi-ekspresi terpendam dari dalam jiwa yang rapuh, mereka selalu punyakesempatan untuk memeriksa kembali isi karung-karung yang dibawa dari lokasi.Hal itu dilakukan sebab biasanya mereka bisa menemukan barang-barang yang masih bisa dipakai seperti sisir, sandal bekas yang tidaksepasang, gelang-gelangan atau aksesoris lainnya. Bahwa barang-barang sepertiitu sudah menjadi limbah bagi mereka yang berada dalam kondisi mapan, tapi bagiketiga anak itu, semua benda adalah harta karun, kecuali untuk satu hal, yaknibenda yang membuat tawa mereka keluar seperti gemuruh bebatuan yang jatuh daripuncak gunung berapi aktif. “Hahahahaha… Benda aneh!!!” Lalu dilempar ke sungai…Benda itu adalah pakaiandalam perempuan.…Dan seperti  biasanya, terutama bila sang DewaKeberuntungan sedangmemihak…”Ini buat kamu” ucap Arasambil memberikan sebuah buku yang sudah kusam dan berlubang-lubang pada Pio. Bila ada buku bekas, pastiitu buat Pio, sebab di antara mereka bertiga, hanya Pio yang bisa membacadengan lancar.

Selain itu, Pio memang punya hobi mengoleksi buku yang didapatdari hasil memulung. Bagi Pio, membaca sebuah buku setara dengan menghabiskandua bungkus nasi dari kios Bu’ Indah, tidak makan tapi membaca buku bukanlahkerugian. Sementara makan sambil membaca buku merupakan nasib fantastis.Tidak seperti Ara dan Esa,Pio sempat merasakan suka ria duduk di bangku Sekolah Dasar hingga kelas Lima sebelum akhirnya berhenti karena tempat tinggalnya yang berupa gubuk kecil di sekitar taman kota digusur atasalasan estetika kota. Sejak itu, Pio tidak lagi punyawaktu untuk memikirkan sekolah. Dia hanya bepikirbagaimana caranya untuk mencari makan untuk menyambung hidupnya. Dengan demikian, koleksi bukubekasnya bertambah lagi.

Membaca buku adalah cara terbaik untuk mencari Ilmu.Anak-anak lain bisa berbangga dengan buku Laporan Ulangan Semester, serta lembaran-lembaran ijazah di akhirtahun pelajaran. Tapi Pio hanya bisa berbanggadengan buku-buku bekas itu. Entah apa arti sebuah kebanggaan.”Sepertinya buku cerita.”Gumam Pio setelah menerimadan memperhatikan sebuah buku yang baru saja diberikan oleh Ara.

“Buku cerita? Ceritanyatentang apa?”Tanya Ara penasaran.”Saya juga tidak tahu, sayatidak terbiasa menebak sebelum punya pengalaman tentang sesuatu, tapisepertinya bercerita tentang kehidupan orang dewasa.”Pio menjawab sambil membukalembaran-lembaran buku itu secara sepintas.

Di antara mereka bertiga, Pio juga paling dewasa dalammenentukan sikap.Biar jelas, saya punya ide,bagaimana kalau saya dan Ara berbaring lalu kamu membacakan isi buku itu padakami.”Usul Esa setelah ikutmemperhatikan gambar yang ada di bagian sampul buku itu.”Setuju!!! anggap saja sebagai rasa terima kasih ataspenemuan berharga ini.

“Esa menanggapi tanpa berpikirpanjang.Pio memandang dua orangtemannya. Ketiganya diikat oleh solidaritas yang erat. Orang tua merekaberbeda, tapi rahim jaman melahirkan mereka sebagai saudara yang memiliki kesamaanrasa.”Keinginan kalian akan sayapenuhi, tapi dengan syarat kalian harus menyimaknya dengan baik.”Ucap Pio sambil tersenyum.Ara dan Esa tak perlumenyatakan kesiapan mereka memenuhi syarat yang ditawarkan oleh Pio.Karung-karung disingkirkan,kertas koran bekas digelar sebagai tikar.

Ara danEsa berbaring di antara rerumputan kering dan serbuk bunga Akasia yangbejatuhan. Sementara Pio segera membetulkan posisi duduknya agar dapat membacadengan nyaman.…”Pikiran Hewan” demikianjudulnya.Di salah satu ruanglaboratorium, seorang professor dengan ciri khas kepalabotak dan kecamata yang molor sampai di ujung hidung sedang tertawaterbahak-bahak mirip pemenang undian berhadiah.

“Ha…ha…ha… sebentar lagi eksperimen terbesarku akan berhasil.””Ha…ha…ha… aku memang professor terhebat di dunia ini.”Ia terus saja memuji diri, sementara beberapa orang asistennya hanya bisamengangguk, mengaminkan ucapan sang professor.”Iya, bapak memang professorterhebat di planet ini, seantero dunia pasti akan tahu itu.

“”Sekarang, bawa hewan-hewanitu kemari!” Professor memerintahkan asistennya dengan penuhkeyakinan.Kini di hadapan professor itusedang terbaring dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Cairan berwarnamerah yang disuntikkan beberapa menit yang lalu cukup membuat saraf-sarafmereka tak berfungsi untuk beberapa waktu yang memang telah diperhitungkan.

Ketiga orang itu akan dibedah, otak mereka akan diganti dengan otak hewan. Asisten professor masuk danmasing-masing membawa seekor Buaya, Ular, dan Tupai. Semuanya terlihat sehatdan gemuk karena memang telah melewati seleksi yang cukup panjang. Sangprofessor sangat tahu apa yang akan dilakukan. Hewan-hewan itu juga akandibedah untuk diambil otaknya.

Kemudian otak-otak itu akan dipasangkan ditengkorak kepala ketiga orang yang masih berbaring, tak sadarkan diri. Orang pertama adalahlaki-laki bertubuh kekar dan tegap mirip anggota pasukan elit-militer,dipasangi otak buaya. Orang kedua adalah laki-laki jangkung, yang meski kurusnamun tetap memiliki kharisma yang luar biasa, dipasangi otak ular.

Selanjutnyayang terakhir adalah perempuan dengan potongan rambut yang agak pendek namuntetap terlihat feminim, dipasangi otak tupai.Semua dilakukan denganteliti, sang professor telah berjanji atas dedikasinya untuk tidak gagal.Setelah dianggap beres, beberapa potongan kabel yang disambungkan pada layarkomputer dilepas dari tubuh-tubuh yang berbaring itu.

Professor punmenarik nafas lega.”Beres!!!”Ia menuju ke kursi untuk menunggu hasil kerjanya yang panjang dan meletihkan. “Sepertinya aku telah membantu Tuhan untuk menyempurnakan ciptaanNya…hahaha.””Orang-orang baru ini akanmenjadi makhluk yang luar biasa.”Gerututnya tanpa menanggalkan sedikit pun tawa lebar dari mulutnya.

“Sempurna!”Jari-jari tangan dan kakimereka mulai bergerak. Andai tidak terpasung pada benda yang mirip borgoltahanan, pasti mereka akan segera bangkit lalu berjalan mengintari sudut-sudutruangan. Kali ini, sang professor tidak ingin membuat hal yang ceroboh. Segalakemungkinan harus diantisipasi sedini mungkin.Tapi setelah cukup lamamengamati, professor bisa yakin kalau apa yang ada di hadapannya memang telah sesuai dengan rencanasebelumnya. Keempat asistennya memberi ucapan selamat dengan jabat tangan akrabserta pelukan yang sangat bersahabat.”Selamat!””Kita berhasil.

“”Aku memang hebat.””Aku juga hebat.””Kita semua hebat… hahaha!!!”Kelimanya lalumelompat-lompat kegirangan, mirip anak-anak perempuan kecil yang sedang bermainlompat tali, mirip pemain bola yang merayakan gol emasnya di tengah lapangan, atau tim sukses kandidat KepalaDesa yang memastikan kemenangannya di akhirperhitungan suara.Momen suka ria itu hanyaberlangsung sebentar, tapi cukup membuat sang professor untuk bangga seumur hidup,bahkan seumur tujuh generasinya yang akan datang.

“Raga kita boleh mati, tapitidak dengan nama kita, sebab sejarah telah mencatat kita dengan tintakekekalan.””Mereka adalah makhluk luarbiasa yang dilahirkan oleh pengetahuan kita, para ilmuan akan tertuju padakita, mereka akan iri dengan hal ini.” Mulut sang professor sampai berbusa karenasemua ucapannya itu.Ketiga orang itu, atau lebih tepatnya manusia setengah hewan cetakan sang professor akan dilepas di sebuah negeri yang jauh daritempat mereka diproses.

Butuh waktu beberapa jam bila ditempuh dengan pesawatsebab harus melewati beberapa samudera dan benua. Sebuah negeri kepulauan yang indah. Tanahnya subur, anekaflora dan fauna bisa hidup layaknya di taman surga. Laut dan perut buminya mengandungkekayaan yang tidak habis untuk jutaan generasi.

Negeri itu dihuni oleh ratusanjuta jiwa manusia. Sebuah negeri yang sempurna.Sebagai garnis-pelengkapkesempurnaan menu kreasinya, sang frofessor memberikan nama kepada tiga orangitu, Sulaeman, Burhanuddin, dan Sarifah. “Bersenang-senanglah dinegeri ini.”Ucap sang professor sebagaisalam terakhir.

Beberapa bulan kemudian…Tiga orang itu menjadi sosokpenting dan sangat berpengaruh. Tidak tanggung-tanggung,mereka menjadi orang yang paling menentukan atas kehidupan seluruh manusia dinegeri itu. Sulaeman menjadi presiden, Burhanuddin menjadi wakilnya, sementaraSarifah di percayakan sebagai bendahara.

Maka lahirlah kolaborasipemerintahan dengan ideologi kebinatangan yang sangat kompak. Saling menutupikelemahan serta aib, dan yang pasti, mereka saling berbagi jatah hasil kekayaandan penghasilan negara yang sulit dihitung dengan angka-angka. Dalam istilahyang sedikit romantis, ketiganya berada dalam persetubuhan hasrat jabatan yangcantik dan rapi.

Otak hewan, dengan penampilan mirip malaikat penolong, semuaorang dibuat tak sadarkan diri.Sulaemen adalah sosokpemimpin yang mampu menghipnotis perhatian rakyatnya. Cara bicaranya sopan,gerak langkahnya menunjukkan wibawa yang sempurna.

Ia tampil sebagai tokohdengan penampilan yang kelihatan tanpa celah. Keterampilannya yang palingmenonjol adalah mengatur semua bawahannya agar tidak melakukan pemberontakansekecil apapun. Semua itu dilakukan atas satu alasan”melanggengkan kekuasaan untuk selama-lamanya, agar segala fasilitas negara bisa terus dinikmati.”Seperti buaya di permukaansungai, gerakannya sangat tenang untuk menghapus kecurigaan setiap makhluk yangakan masuk dalam perangkap kekuasaannya. Namun begitu kesempatan baik datang, iaakan bereaksi dengan gigi taringnya yang tajam-dengan bobot tubuh yangdiputar-putar. Sulaeman bisa menjalankan kecurangan dengan sangat halus. Iaselalu benar untuk semua paradigma.

Bila ada kesalahannya yang mulai tecium,dengan cepat dialihkan pada pihak lain.Sementara wakilnyaBurhanuddin, adalah sosok yang begitu lihai memainkansandiwara kepahlawanan. Sebagai wakil, tugas utamanya adalah membantu Sulaemanuntuk mewujudkan semua kepentingannya. Memutar balikkan fakta adalahkeahliannya. Ia bisa beradaptasi dengan kondisi genting apapun.

Bila berbicaradi depan pengusaha, maka mulutnya sangat terampil untuk menerangkan sederet teori ekonomi yang menjanjikan keuntungannamun sarat dengan ketidakadilan. Bila bertemu dengan petani dan nelayan, makaia tampil sebagai dewa penolong, menjanjikan pupuk dan bahan bakar murah. Danbila sedang membicarakan masalah hukum, maka Burhanuddn adalah penafsirpasal-pasal yang bisa melegalkan apa saja, termasuk menjadi perampok kelaselit.

Burhanuddin memiliki senyum yangkhas, bila ia menyunggingkannya pada khalayak, maka teori dan janji seakantelah menjadi kenyataan yang pantas disyukuri. Ular memang tampil dengan warnakulit yang mempesona, sehingga banyak orang yang tidak menyadari bisanya yangmematikan.Sarifah datang melengkapicerita konyol ini dengan perangai tupainya yang cerdik.

Sarifah adalahperempuan yang memiliki kelebihan dibanding dengan jutaan lelaki yang ada. Iabisa melompat ke sanakemari untuk mendapatkan keinginannya, lewat tanda tangan dan rekayasa laporankeuangan negara. Sarifah adalah pelobi yang ulung, geraknya seperti penaribalet professional yang sedang mempertunjukkan elastisitas tubuhnya di hadapandewan juri di sebuah perlombaan berkelas internasional.Hanya beberapa tahunberkuasa, ketiganya telah membentuk dinasti yang sarat dengan ketidakadilan,manipulasi, dan diskriminasi. Dan yang paling penting, mereka telah suksesmemperkaya diri dengan uang. Bila nanti ada mulut-mulut nakal yang beranibercerita tentang kekurangan mereka…”Tutup saja dengan uang…”Di dunia ini hanya sedikit hal yang tidak bisa dibelidengan uang.”Stop…””Stop…””Stop…””Sepertinya buku cerita itutidak menarik.”Ucap Ara dan Esa hampirbersamaan untuk menghentikan Pio yang terus membaca buku yang baru saja didapatkandi tempat pembuangansampah itu, buru-buru merekabangkit.

“Mengapa tidak menarik?”Pio menyela ucapan temannya.”Terlalu banyak hal yangsulit dipahami” jawab Esa.”Iya, terlalu banyak istilah yang membingungkan” tambahAra.”Iya, tapi bacaannya memangbelum selesai, siapa tahu di halaman akhir ada hal-hal yang menarik.”Pio berusaha meyakinkan.”Kalau begitu langsung sajabaca halaman terakhir…” Ucap Ara tak sabar.”Hmm…” Pio hanya tersenyum,lalu mengikuti keinginan dua orang temannya.Pada akhirnya tidak ada yangabadi.

Kekuasaan Sulaeman goyah dan akhirnyaruntuh. Seperti bangunan pasir  yangdibuat di pantai, seketika hilang ditelan oleh hempasan ombak. Sepandainyabuaya bersiasat, sepandainya ular meliukkan badan, dan selincah apapun tupaimelompat, mata batin rakyat bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnyaterjadi.Undang-undang bolehdirekayasa, saksi persidangan boleh diatur sesuka hati, namun ada hal yang tidak bisa digadaikan dan tak pernah bisa ditawardengan harga, yakni rasa keadilan.

Ibarat bom waktu, kini iameledak, tak ada yang bisa disisahkan…”Turuuuun!!!Kembali ke habitat kalian!!!”Suara yang satu namunditeriakkan oleh jutaan orang. Di tangan mereka ada senapan dan geranat yangsiap diledakkan.Sulaeman, Burhanuddin, dan Sarifah pun menggigilketakutan, kekuasaan mereka berakhir. “Maafkan kesalahan kami…”Opi menghentikan bacaannya…”Apa nama negeri yang ada dalam cerita itu Pi?”Buru-buru Esa bertanya.”Entahlah, halaman terakhirya robek.

“”Aaa… payah… bukubekas menjengkelkan.””Iya, makanya kalau mau bacabuku, cari buku yang masih baru.””Kalau mau buku baru, beli ditoko buku sana…””Kalau mau beli buku, cari uang yang banyak…””Kalau mau cari uang, ayo kita kembali memulung.”Opi, Esa, dan Ara kembalimenyiapkan karung-karung mereka.

Rasa lelah sudah hilang, panas matahari jugaterasa lebih bersahabat. Bak prajurit perang,mereka kembali turun ke medan juang. Berjuang melawan getir takdir mereka yangtersaji lewat bau busuk dan kuman-kuman penyakit di tempat pembuangan sampah. “Jangan-jangan negeri yangdimaksud oleh penulis cerita itu adalah negeri kita…”Ara bergumam sambil berjalan.

“Hahahaha… sudahlah, kupikir pemimpin di negeri kita lebih burukdari cerita tadi.” Pio menimpali temannya dengansenyuman lepas.       

x

Hi!
I'm Katy!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out