BAB kebiasaan. Pada pembelajaran Kurikulum 2013, siswa didorong

BAB 1. PENDAHULUAN

Pada bagian ini
diuraikan tentang: (1) latar belakang; (2) rumusan masalah; (3) tujuan
penelitian; dan (4) manfaat penelitian.

 

 

1.1 Latar
Belakang

 

Pendidikan adalah usaha terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif bagi siswa. Siswa
dapat mengembangkan segala potensi yang dimilikinya di sekolah. Pendidikan di
Indonesia saat ini telah menggunakan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 lahir dari
penyempurnaan dan pengembangan kurikulum sebelumnya yakni KTSP (Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan). Penerapan Kurikulum 2013 lebih menekankan pada
pendidikan karakter daripada sekedar memperoleh pengetahuan. Pada Kurikulum
2013, karakter menempati proporsi lebih besar dibandingkan pengetahuan. Di
jenjang Sekolah Dasar (SD) penanaman karakter diberikan sebanyak 70%, sedangkan
pengetahuan hanya sebesar 30% saja. Hal ini sesuai dengan fungsi pendidikan
nasional yakni mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sejalan dengan hal tersebut, menurut
hasil penelitian Harvard University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 80% soft skill dan 20% hard skill. Kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan dan
kemampuan teknis  (hard skill) saja, tetapi juga kemampuan untuk mengelola diri dan
orang lain (soft skill). Anak perlu
dibekali dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter sangat penting untuk
mengasah kemampuan anak dalam mengenali diri maupun berinteraksi dengan
lingkungan sosialnya.

Penanaman pendidikan karakter kini telah
diintegrasikan dalam pembelajaran Kurikulum 2013. Kurikulum ini memuat
pelajaran secara lengkap dan utuh mengenai pemahaman terhadap konsep,
implementasi atau praktik, dan pengembangan karakter. Pendidikan karakter merupakan
pendidikan budi pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (knowing), perasaan (feeling),
dan tindakan (action). Siswa akan
diberikan pengetahuan tentang nilai moral terlebih dahulu. Kemudian, menyadarkan siswa akan
pentingnya memiliki nilai moral. Selanjutnya,
siswa diminta untuk melaksanakannya sebagai suatu rutinitas atau kebiasaan.

Pada pembelajaran Kurikulum 2013, siswa didorong
untuk dapat mengasah kreativitas, mampu berpikir kritis, dapat berkomunikasi
dengan baik, dan mampu bekerjasama dengan orang lain. Pembentukan karakter pada
dasarnya bersifat individual, namun pada kenyataannya karakter seseorang dapat
dipengaruhi oleh orang lain atau lingkungan. Untuk menanamkan dan membentuk
karakter positif pada anak, guru bersama dengan orang tua harus mampu
menyiapkan dan menyediakan lingkungan yang baik dan ideal bagi anak. Lingkungan
yang dapat mendorong anak belajar dan memperoleh pengalaman dengan optimal. Guru
harus mendukung semangat siswa untuk berubah dan lebih fokus pada kolaborasi
bukan hanya kompetisi.

Karakter siswa sekarang ini sangat
dipengaruhi oleh tontonan dari berbagai media, seperti melalui tayangan
televisi dan internet. Anak-anak lebih cepat menangkap informasi secara
audiovisual dan cenderung suka meniru perilaku orang lain. Permasalahan
karakter yang ditemukan di Sekolah Dasar yakni masih banyak siswa yang kurang
peduli terhadap sosial dan lingkungannya, melanggar aturan sekolah, serta kurang sopan dalam bersikap dan
bertingkah laku.

Pada era globalisasi saat ini, guru
harus dapat memanfaatkan teknologi dengan baik. Salah satu cara pemanfaatan
teknologi yaitu dengan menggunakan video sebagai media pembelajaran. Media
video secara positif dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran dan
penanaman karakter karena video lebih menarik perhatian dan mampu memberikan
gambaran secara nyata tentang kehidupan.

Berdasarkan hasil observasi pada hari
Sabtu tanggal 9 September 2017 di SDN Badean 1 Bondowoso, diperoleh informasi
bahwa pembelajaran dilaksanakan menggunakan metode ceramah, demonstrasi, tanya
jawab, eksperimen dan pemberian tugas. Metode diskusi juga pernah diterapkan,
namun belum pada tahap mengungkapkan pendapat di depan umum seperti presentasi.
Hal tersebut mengakibatkan cara belajar siswa hanya terpaku pada buku dan penjelasan
guru. Siswa kurang dapat mengungkapkan pendapat dan interaksi sosialnya pun
masih terbatas. Apabila siswa mengalami kesulitan, mereka jarang sekali
bertanya langsung kepada guru. Di dalam kegiatan pembelajaran, siswa tidak
banyak tampil di depan kelas untuk mengungkapkan pendapatnya. Guru hendaknya
dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Guru harus
dapat memilih dan mengkombinasikan metode-metode yang cocok digunakan dalam
pembelajaran.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru
kelas IV pada tanggal 11 September 2017 di SDN Badean 1 Bondowoso menunjukkan
bahwa guru umumnya memberikan pembelajaran menggunakan metode ceramah dan
pemberian tugas, karena untuk menggunakan metode-metode yang beragam siswa
sangat sulit diatur dan dikondisikan. Guru mengalami kesulitan untuk memusatkan
perhatian siswa, akibatnya siswa kurang memperhatikan saat pembelajaran,
bergurau dengan teman, kurang disiplin dalam mengerjakan tugas, dan kurang
menghargai orang lain baik guru maupun teman. Media yang digunakan dalam proses
pembelajaran juga masih terbatas, hanya berupa gambar dan teks serta alat
peraga sederhana yang dibuat sendiri oleh guru dan siswa berdasarkan materi
yang ada dalam buku. Guru kelas mengungkapkan bahwa siswa memiliki minat dan
semangat belajar yang tinggi, namun dinilai kurang dalam segi akhlak atau
perilaku yang ditunjukkan di dalam kelas.

Wawancara juga dilakukan pada sepuluh
siswa kelas IV SDN Badean 1 Bondowoso. Hasil wawancara menunjukkan bahwa dalam
pembelajaran tematik siswa telah dapat memahami materi yang disampaikan oleh
guru, namun hal tersebut kurang bermakna karena pengetahuan yang telah didapat
belum mampu tercermin pada diri siswa sebagai bentuk perilaku positif dalam
kehidupan sehari-hari. Siswa masih saja sering melakukan beberapa pelanggaran
seperti tidak mengejakan tugas atau PR (Pekerjaan Rumah), terlambat ke sekolah,
bergurau dan ramai saat pembelajaran, kurang menghargai guru dan teman, serta
kurang mengindahkan nasehat guru.

Berdasarkan dokumen sekolah berupa penilaian
harian aspek kognitif (pengetahuan) siswa kelas IV SDN Badean 1, diperoleh
bahwa KKM (Kriteria ketuntasan minimal) untuk setiap mata pelajaran adalah 68.
Sebagian besar siswa telah memenuhi KKM bahkan nilainya dapat dikatakan baik,
namun hal ini kurang tercermin dalam proses pembelajaran khususnya pada aspek
psikomotorik (keterampilan) dan afektif (sikap positif) yang ditunjukkan oleh
siswa.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahman (2011) dengan judul “Impact of Disscussion Method on Students
Performace”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode
mengajar pada pembelajaran ilmu sosial. Metode diskusi digunakan pada kelompok
eksperimen dan metode ceramah digunakan pada kelompok kontrol. Berdasarkan
penelitian tersebut diperoleh informasi yaitu skor pada kelompok eksperimen
lebih tinggi dari pada kelompok kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa
metode diskusi lebih efektif dari pada metode ceramah. Penelitian ini juga
merekomendasikan agar guru lebih memilih menggunakan metode diskusi dalam
pembelajaran ilmu sosial.

Pada permasalahan yang telah
disampaikan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran di kelas IV SDN Badean 1
Bondowoso belum efektif. Adapun usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi
permasalahan tersebut, diantaranya melalui: (1) penggunaan metode pembelajaran
yang dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran; (2) penggunaan media
yang menarik perhatian siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran; dan (3)
menyisipkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran.

Metode diskusi merupakan percakapan
ilmiah yang dilakukan oleh beberapa siswa dalam satu kelompok untuk saling
bertukar pendapat tentang suatu masalah dan secara bersama-sama menemukan
pemecahan guna mendapatkan jawaban yang tepat. Metode diskusi dilaksanakan pada
kegiatan inti pembelajaran, hal ini dilakukan agar siswa dapat lebih memahami
materi yang diajarkan dan dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan
lingkungan sosialnya.

Pada penelitian ini, jenis diskusi yang
digunakan adalah diskusi kelompok
kecil.
Diskusi kelompok kecil dimana sebuah diskusi terdiri dari 4-6 siswa dalam
sebuah kelompok kerja. Sebelum memulai diskusi, guru harus memastikan bahwa
siswa mempunyai pengetahuan dasar yang cukup memadai. Proses pelaksanaan
diskusi ini dimulai dengan guru menyajikan materi, kemudian setiap kelompok
yang telah terbentuk diminta untuk mendiskusikan masalah yang ada pada materi
tersebut, sehingga mendapat pemecahan atau solusi yang diinginkan. Proses ini
melibatkan peran aktif seluruh siswa dalam menyalurkan dan menyumbangkan
pemikirannya.

Selain penerapan metode pembelajaran di
kelas, media yang digunakan guru juga sangat penting diperhatikan. Guru harus
kreatif dalam menyediakan media yang dapat membantu siswa dalam belajar. Media
merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Media yang akan dipilih yaitu media video. Media video memiliki kemampuan untuk
memaparkan sesuatu yang rumit (kompleks) dan sulit dijelaskan apabila hanya
menggunakan media gambar atau teks. Kelebihan video lainnya yakni dapat
menjelaskan suatu kejadian secara runtut dan detail, sehingga dapat lebih mudah
dipahami. Melalui media video, siswa akan lebih termotivasi dalam belajar
karena lebih menarik perhatian. 

Penerapan metode diskusi berbantuan
media video diharapkan dapat mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran,
sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan menyenangkan.
Pembelajaran juga diharapkan dapat lebih bermakna bagi diri siswa, karena siswa
dapat bertukar pikiran dan pengalaman serta mampu berinteraksi satu sama lain.

Berdasarkan uraian latar belakang di
atas, maka akan dilakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Penggunaan Metode Diskusi dengan Media Video Cerita Rakyat
dalam Pembelajaran Tema Lingkungan Tempat Tinggalku Terhadap Karakter Toleransi
Siswa Kelas IV di SDN Badean 1 Bondowoso”.

 

1.2
Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang
dipaparkan tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini adalah “adakah
pengaruh penggunaan metode diskusi dengan media video cerita rakyat dalam
pembelajaran tema
Lingkungan Tempat Tinggalku terhadap karakter toleransi siswa kelas IV di SDN
Badean 1 Bondowoso?”

 

 

1.3  Tujuan
Penelitian

Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah “untuk mengetahui
ada tidaknya pengaruh penggunaan metode diskusi dengan media video cerita
rakyat dalam pembelajaran tema
Lingkungan Tempat Tinggalku terhadap karakter toleransi siswa kelas IV di SDN
Badean 1 Bondowoso”.

 

 

1.4  Manfaat
Penelitian

 

Manfaat
yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:

 

1.       
bagi guru, hasil penelitian ini
diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan tentang penggunaan metode
pembelajaran yang tepat  agar siswa aktif
dalam proses pembelajaran.

2.       
bagi kepala sekolah, hasil penelitian
ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan sumber data untuk
memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan khususnya di SDN Badean 1
Bondowoso.

3.       
bagi pengawas sekolah, hasil penelitian
ini diharapkan dapat memberikan ide dan inovasi baru dalam pengembangan metode
dan media pembelajaran untuk meningkatkan kualitas kinerja guru di sekolah.

4.       
bagi peneliti, diharapkan melalui
penelitian ini dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan
penelitian yang baik dan benar.

5.       
bagi peneliti lain, hasil penelitian ini
diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan penelitian selanjutnya.