Ghazw            Salah satufenomena penting antar-suku di kawasan Semenanjung Arab adalah maraknyaperistiwa pembegalan, atau perompakan terhadap kafilah, atau perkemahan sukulain.

Ghazw atau yang biasa disebut serbuan kilat atau razia, bila tidakdipandang organisasi bandit liar, dibentuk berdasarkan kondisi sosial danekonomi kehidupan gurun hingga menjadi semacam institusi sosial. Razia danperompakan merupakan pondasi struktur ekonomi masyarakat Badui penggembala.1             Menurutaturan-aturan main yang berlaku, ghazw merupakan sejenis olahragakebangsaan, tidak boleh ada pertumpahan darah dalam ghazw, kecuali dalamkeadaan yang sangat mendesak. Ghawz berhasil mengendalikan jumlahorang-orang yang perlu diberi makan, meskipun tidak pernah bisa meningkatkanjumlah ketersediaan cadangan makanan. Meskipun demikian, prinsip keramahtamahanhingga taraf tertentu mampu meredam kebengisan praktik ghazw.

2Pemicu Konflik Pada Masyarakat ArabKeadaan geografis masyarakat Arab,mereka tinggal di tempat yang sangat panas dan kering. Dalam memastikankelangsungan hidup, setiap klan perlu mengatasi masalah secara kolektif.Pemadatan terhadap perasaan klan telah mengakibatkan kehidupan Arab Jahilliyyahmenjadi kacau dan tidak teratur. Ini biasanya menjadi sumber permusuhan dalammasyarakat Arab Jahilliyyah. Perang antara klan yang berbeda bisa ada bahkandengan alasan sepele. Perang al-Basus antara klan Bakr dan Rabi’ah menunjukkansifat masyarakat Jahilliyyah Arab yang merasa senang berkelahi satu sama lain.3 Lalu keadaan perebutan kepemimpinansuatu kabilah, apabila puak suatu kabilah telah beranak pinang sedemikianbanyak, maka anggota puak kabilah tersebut bersaing untuk menduduki kursikepemimpinan dan kehormatan sekalipun masing-masing di antara mereka itu masihsatu kabilah.

Persaingan ini telah menimbulkan permusuhan dan perseteruan yangberakibat pertumpahan darah, seperti yang dialami dan terjadi antara Aus denganKhazraj, antara ‘Abasa dengan Dzubyan, antara Abd. Syams dengan Hasyim, danantara Rabi’ah dengan Mudhar.4 Peran Wanita Pada Zaman JahiliyyahSelanjutnya perempuan tidak diberistatus yang layak mereka dapatkan baik dalam keluarga maupun masyarakat. Merekamenganggap anak perempuan saat mencapai usia penuh karena mengganggu merekadengan masalah sosial dan ekonomi. Dengan demikian Masyarakat Arab Jahilliyyahbersedia menguburkan anak perempuan mereka yang masih hidup seperti yang lazimdi Tamin dan Asad klan.

5Pada masa Jahiliyyah, kaum wanitaadalah kaum yang dapat menikmati arti kebebasan yang sangat besar. Merekaadalah pihak yang biasa diajak bermusyawarah dalam urusan-urusan penting danditerima saran atau usulannya. Lebih dari itu, bahkan mereka juga bekerja samadengan kaum laki-laki dalam sekian banyak pekerjaan. Selanjutnya, dalam pandanganmasyarakat Arab dianggap tidak baik, jika seorang anak perempuan sudah memasukiusia perkawinan atau janda muda namun tidak segera dinikahkan. Apabiladisegerakan menikah, guna menghindarkan si perempuan dari fitnah dan untuk memeliharakehormatannya.61Philip J. Hitti, History Of The Arabs, (Jakarta: PT SERAMBI ILMUSEMESTA, 2005), 30.2Philip K.

Hitti, op.cit. 31.3 Ibid.,216.4 Dr.Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam Jilid 1, (Jakarta:Kalam Mulia,2001), 117.

5 Dr.Mohd Sukri Hanapi, op.cit. 216.

6 Dr.Hasan Ibrahim Hasan, op.cit. 114-115.

x

Hi!
I'm Katy!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out