Identifikasi Awal Profil Self-efficacy Siswa SMA dan Penentuan Model PengajarannyaMamim Zumroatun1),Woro Setyarsih2), dan Lydia Rohmawati 1)Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika,FMIPA, UNESA, Alamat e-mail: [email protected]

com2)Dosen Jurusan Fisika, FMIPA, UNESA, Alamate-mail: [email protected] AbstrakPenelitianini bertujuan untuk mengetahui profil self-efficacysiswa dan menentukan model pengajaran yang sesuai untuk meningkatkan self-efficacy siswa pada materi momentumdan impuls. Desain dalam penelitian ini adalah “One Group Pre-Test and Post-Test”. Instrumen yang digunakan dalampenelitian ini adalah: lembar angket self-efficacysebagai instrumen utama dan lembar pengamatan perilaku self-efficacy sebagai instrumen pendukung.

Subjek penelitian inisebanyak  79 siswa kelas X. Hasilpenelitian didapatkan: (1) nilai rata-rata self-efficacysiswa berkategori tinggi pada dimensi magnitude,strength, dan generality; (2)model pengajaran yang sesuai untuk meningkatkan self-efficacy adalah model pengajaran inkuiri.Kata-kata kunci:Inkuiri, Self-Efficacy, PembelajaranFisika.   AbstractThis study aims to findout the profile of students ‘self-efficacy and determine the appropriateteaching model to improve students’ self-efficacy on the momentum and impulsematerials. The Design in this study is “One Group Pre-test and Post-test”.Instrument used are self-efficacy questionnaires as main instrument and self-efficacybehavior checklists as supporting instrument.

The subjects of this study were79 students of class X. The results of this study indicated that: (1) theaverage student self-efficacy score is high on the magnitude, strength, andgenerality dimensions;(2) appropriate teaching model to improve self-efficacy isa inquiry teaching model.Keyword: Inquiry, Self-efficacy, learning physics .

 PENDAHULUAN Penerapan Kurikulum 2013 saat inimenuntut pembelajaran yang berbasis scientificapproach. Pendekatan saintifik merupakan konsep dasar yang menginspirasiatau melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristikyang ilmiah. Dalam pembelajarannya mendorong siswa agar mampu dalam mengamati,menanya, mencoba atau mengumpulkan data, mengasosiasi atau menalar, danmengkomunikasikan. Pembelajaran ini berorientasi pada keaktifan siswa dalampelaksanaannya (student centered),guru hanya sebagai fasilitator dan pengarah dalam proses belajar mengajar.Kurikulum2013 menghendaki student centered dalampembelajaran dimana guru diharuskan untuk memperhatikan perbedaan individusetiap siswa (Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014). Setiap siswa mempunyaikarakteristik dan perbedaan masing-masing dalam menyerap hasil kegiatanpembelajaran yang diberikan oleh guru. Perbedaan individu siswa dapat berupaperbedaan kognitif, afektif, psikologis, dan lain sebagainya.

Beberapapermasalahan yang timbul dalam diri siswa yang mungkin berkaitan denganperilaku kognitifnya yakni kadang-kadang terjadi ketidakselarasan antarakeinginan atau minat individu dengan bakat khususnya, sering membawa kesulitanjuga dalam memilih program yang sesuai dengan dirinya. Banyak kegagalan studimungkin bersumber pada pilihan yang kurang tepat ini (Makmun, 2000). Tait-McCutcheondalam Puspita (2016:1) menyatakan bahwa seorang guru penting untuk mengetahuiapa yang siswa rasakan, pikirkan, dan lakukan. Selain itu guru juga harusmempertimbangkan pengaruh dari sikap, nilai, karakteristik kepribadian terhadapprestasi dan partisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Guru seharusnya perlumengenali perbedaan individu setiap siswa dan seharusnya perlu memperhatikanfaktor-faktor yang terkait dengan proses pembelajaran siswa.

Adapun beberapafaktor psikologis dalam diri siswa antara lain: self-efficacy, motivasi, dan lain sebagainya (Santrock, 2009:216).Self-efficacy adalah suatu kepercayaan individu akan kemampuannyauntuk melakukan tugas tertentu yang mempengaruhi kehidupannya (Bandura dalamFeantoby, 2012:2). Self-efficacymemiliki keefektifan tertentu bagi individu agar mampu menilai bahwa dirinyamempunyai kekuatan untuk menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Self-efficacy membawa dampak tersendiribagi individu dalam meningkatkan kehidupannya (Schulze et al, 2015:2). Tanpa self-efficacy individu akan ragu-ragudalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Selain itu self-efficacy merupakan bentuk tindakanmotivasi, kognitif, dan afektif intervensi proses, sehingga dengan self-efficacy individu akan percayadengan kemampuannya dan akan meningkatkan hasil belajarnya. Tingkat self-efficacy yang tinggi adalahkarakteristik tingkat ketekunan dan tingkat pencapaian yang diperlukan untukbertahan dalam pembelajaran sains.

Tingkat self-efficacyjuga terkait dengan konsep kecemasan sains dan motivasi akademik (Bernasconi,2017:12).Selain itu dalam PermendikbudNomor 65 Tahun 2013 tentang Prinsip Pembelajaran yang diterapkan salah satunyaadalah mengubah dari pendekatan tekstual menjadi pendekatan berbasis masalah,berbasis proyek, discovery, daninkuiri. Model pengajaran berbasis masalah adalah proses pembelajaran yangdalam kurikulumnya dirancang berdasarkan masalah-masalah yang menuntut siswamendapatkan pengetahuan penting, membuat siswa mahir dalam memecahkan masalah,dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki kecakapan berrpartisipasidalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistematik untukmemecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti diperlukan dalam karierdan kehidupan sehari-hari, masalah yang disajikan adalah masalah yang memilikikonteks dengan dunia nyata, semakin dekat dengan dunia nyata akan semakin baikpengaruhnya pada peningkatan kecakapan siswa (Amala, 2012:20). Model pengajaran berbasis proyek merupakansuatu pendekatan pendidikan yang afektif dan berfokus pada kreatifitasberfikir, pemecahan masalah, dan interaksi antara siswa dengan teman sebayamereka untuk menciptakan dan menggunakan pengetahuan baru.

Khususnya inidilakukan dalam konteks pembelajaran aktif, dialog ilmiah dengan supervisoryang aktif sebagai peneliti (Asan, 2005). Dengan demikian pembelajaranberbassis proyek merupakan metode yang menggunakan belajar kontekstual, dimanapara siswa berperan aktif untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan,meneliti, mempresentasikan dan membuat dokuman. Pembelajaran berbasis proyekdirancang untuk digunakan pada masalah kompleks yang diperlukan siswa dalammelakukan investigasi dan memahaminya.

Model pengajaran inkuiri menurutKeselman (dalam Pedaste, et al, 2015:2) adalah proses pembelajaran dimana siswamengikuti metode dan praktik dengan profesional untuk membangun pengetahuannya.Dalam model pengajaran inkuiri siswa terlibat di dalam pembelajaran, merumuskanpertanyaan, menginvestigasi dan membangun sebuah pemahaman baru (Branch &Oberg, 2004:11). Dengan melibatkan seluruh kemampuan siswa secara maksimaluntuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analisissehingga membuat siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuhpercaya diri.

Berdasarkan beberapa model pengajaran yang bisa diterapkan dalamproses pembelajaran adalah model pengajaran inkuiri karena sesuai denganperkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah prosesperubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman, selain itu model pengajaraninkuiri menekankan pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomorik secaraseimbang, sehingga pembelajaran melalui model ini dianggap lebih bermakna(Setyawati, 2016).Berdasarkan uraian di atas, makapeneliti melakukan penelitian dengan judul “Identifikasi Awal Profil Self-efficacy Siswa SMA dan PenentuanModel Pengajarannya”. METODEJenis penelitian yang digunakanadalah pre experimental design denganmenggunakan dua kelas yang diberi perlakuan sama. Subjek dalam penelitian inisebanyak 79 siswa kelas X SMAN 19 Surabaya. Penelitian dilakukan pada semestergenap 2016/2017. Desain penelitian ini adalah “One Group Pre-Test and Post-Test” O1            X             O2  Keterangan:O1   = Pengukuran self-efficacy sebelum perlakuan (pre-test)X   = Perlakuan (pembelajaran dengan model pengajaran inkuiri)O2   = Pengukuran self-efficacy setelah perlakuan (post-test)      Pelaksanaanpenelitian ini mempunyai tiga tahapan, yakni tahap awal, tahap pelaksanaan, dantahap akhir.

Penelitian ini terdapat perangkat dan instrumen yang digunakan,antara lain yaitu silabus, RPP, handout,LKS, lembar observasi keterlaksanaan, lembar angket self-efficacy, lembar pengamatan perilaku self-efficacy, dan lembar tes. Pernyataan dalam angket self-efficacy disusun berdasarkandimensi self-efficacy.pernyataan-pernyataan dalam angket self-efficacytersebut juga terdapat pernyataan positif dan pernyataan negatif tujuannyauntuk mengetahui self-efficacy siswatidak hanya satu sisi saja. Data self-efficacydianalisis berdasarkan 3 dimensi yakni:1)   Magnitude,yaitukeyakinan seseorang akan kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan tugasdengan tingkat kesulitan yang berbeda.2)   Strength,yaitukeyakinan seseorang akan kekuatan atau ketahanan yang dimiliki dalammelaksanakan tugas.

3)    Generality, yaitukeyakinan seseorang akan kemampuannya dalam melaksanakan tugas yang umum hinggaspesifik.HASIL DAN PEMBAHASAN      Analisisdata self-efficacy diperoleh melaluidua instrumen yakni angket self-efficacydan pengamatan perilaku self-efficacy.Hasil penelitian menunjukkan self-efficacysiswa paling banyak berkriteria tinggi yakni sebesar 73% seperti yangterlihat dalam Tabel 1. berikut:Tabel 1.

Profil Self-efficacySiswa Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%) 81-100 Sangat Tinggi 6 9 61-80 Tinggi 58 73 41-60 Cukup Tinggi 15 18 21-40 Rendah – – Jumlah 79 100          BerdasarkanTabel 1. di atas, menunjukkan siswa yang memiliki self-efficacy sangat tinggi sebanyak 6 siswa, untuk self-efficacy tinggi sebanyak 58 siswasedangkan untuk self-efficacy cukuptinggi sebanyak 15 siswa. Tingkat self-efficacysiswa dapat diidentifikasi dari dimensi self-efficacy.Seperti yang terlihat pada Gambar 1 berikut: Gambar1.

Gambaran Umum Self-efficacySiswa         Pada Gambar 1. dapatdilihat jika dimensi strengthdiperoleh rata-rata nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan dimensi magnitude dan generality, namun semua dimensi self-efficacyberada pada kategori tinggi. Selain dari angket self-efficacy siswa diidentifikasi melalui pengamatan perilaku self-efficacy yang diamati disetiappertemuannya, pengamatan perilaku self-efficacydigunakan sebagai instrumen pendukung  dariangket self-efficacy. Hasilpengamatan perilaku self-efficacydapat dilihat pada Gambar 2. berikut: Gambar2. Hasil Pengamatan Perilaku Self-efficacy         Pada hasilpengamatan perilaku (Gambar 2) diperoleh rata-rata siswa meiliki self-efficacy berkategori tinggi, halini mendukung hasil dari angket bahwa rata-rata siswa memiliki self-efficacy berkategori tinggi.

Terdapatdua siswa yang tidak mengalami peningkatan saat pengamatan perilaku self-efficacy tiap pertemuannya, hal inibisa terjadi dikarenakan selama proses pembelajaran siswa tersebut tidakantusias dengan pelajaran fisika. Siswa dengan self-efficacy rendah pada pembelajaran dapat menghindari banyak tugasbelajar, khususnya yang menantang (Santrock, 2009:216). Hal ini bisa terjadikarena ada beberapa faktor penyebab seperti keadaan fisiologis, dan emosionalsiswa, kecemasan yang terjadi dalam diri siswa ketika melakukan tugas seringdiartikan sebagai kegagalan (Bandura, 1997:79). Dengan demikian self-efficacy juga penting diperhatikandalam pembelajaran fisika (Nissen dan Shemwell, 2016).         Untukdapat menumbuhkan atau meningkatkan self-efficacydan hasil belajar siswa diperlukan model pengajaran yang sesuai, salah satunyaadalah model pengajaran inkuiri. Rahayu dan Syarief (2015:1) menggunakan modelpengajaran inkuiri untuk meningkatkan self-efficacysiswa dalam pembelajaran kimia, diperoleh nilai rata-rata pre-test dan post-test self-efficacy mengalami peningkatan begitupun dalampengamatan setiap pertemuan. Hal ini juga diperkuat oleh Jansen, dkk (2015:1)yang menemukan bahwa self-concept danself-efficacy merupakan dua motivasiyang paling penting dari pendidikan, self-conceptlebih dipengaruhi oleh prestasi rata-rata teman sebaya, sedangkan self-efficacy sangat dipengaruhi oleh inquiry based learning. Kock, et al(2015:24) dalam penelitiannya yang bertujuan untuk meningkatkan pemahamankonsep siswa dalam materi arus listrik dengan menggunakan model pengajaraninkuiri, diperoleh pemahaman konsep siswa meningkat.

Berdasarkan penelitiantersebut self-efficacy dan hasilbelajar dengan model pengajaran inkuiri sangat diperlukan dalam pembelajaranfisika, guna menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam mengerjakan tugas yangdiberikan dan meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisikakhususnya. Karena pada model pengajaran inkuiri siswa difasilitasi untuk dapatmengidentifikasi masalah, selain itu siswa dimotivasi untuk mengemukakangagasannya dan merancang cara untuk menguji gagasan tersebut sehingga dapatmembangun sebuah pemahaman dan pengetahuan yang baru sehingga dapat menumbuhkanrasa percaya diri pada siswa.PENUTUPSimpulan         Berdasarkan data hasil penelitian danpembahasan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa self-efficacy siswa rata-rata berkategori tinggi, ini juga didukungoleh hasil pengamatan perilaku self-efficacy.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan self-efficacy siswa adalah dengan menerapkan model pengajaran inkuiri. SaranDenganmemperhatikan hasil penelitian di atas agar kegiatan belajar fisika lebih baikdan efektif bagi siswa, maka saran yang dapat diberikan adalah: penerapan modelpengajaran inkuiri mampu digunakan untuk meningkatkan self-efficacy dan  hasilbelajar siswa, untuk itu perlu diterapkan juga pada materi fisika yang memilikikarakteristik cocok dengan model pengajaran inkuiri. DAFTAR PUSTAKA Amala, Faristin. 2013. Implementasi Model Pembelajaran BerbasisMasalah (Problem Based Learning) dalamMeningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Kompetensi Dasar Menerima danMenyampaikan Informasi Bagi Siswa Kelas X Administrasi Perkantoran di SMK CutNya’ Dien Semarang.

Semarang: Universitas Negeri Semarang.Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu PendekatanPraktik. Jakart: Rineka CiptaAsan.

A dan Haliloglu. Z. 2005. Implementing Project Based LearningIn Computer Classroom.

The Turkish Online Journal of Educational Technology –TOJET, volume 4 Issue 3. http://www.tojet.net/articles/4310.doc.Bandura, A.

1997. Self-efficacy: The Exercise of Control. NewYork, NY: FreemanBranch, Dr.

Jennifer. and Oberd, Dr. Dianne.

2004. Focus on Inquiry. Canada:Alberta LearningDou, Remy. 2017. The Interactions of Relationships, Interest,and Self-efficacy in Undergraduate Physics. FIU Electronic Theses and Dissertations.

3228. FloridaInternational University. http://digitalcommons.fiu.

edu/etd/3228  (online) (diunduh pada 27 September 2017)Feantoby, Amy.2012. The Use of the ‘Teaching as InquiryModel’ to Develop Students’ Self-efficacy in Literature Response Essay Writing.Kairaranga – Volume 13, ISSUE 1: 2012 Tersedia https://Eric.Ed.Gov/?Id=EJ976662(diunduh pada 2 Desember 2016)Jansen, Malte. Et Al.

2015. Students’ Self-Concept and Self-efficacyin the Sciences: Differential Relations to Antecedents and Educational Outcomes. Contemporary EducationalPsychology 41 (2015) 13–24. Tersedia: http://www.

Sciencedirect.Com/ (diunduh pada 2Desember 2016)Kock,Zeger-Jan. et al. 2015. Creating a Culture of Inquiry in the Classroom WhileFostering an Understanding of Theoretical Concept in Direct Current ElectricCircuit: A Balance Approach. International Journal of Science andMathematics Education, 13(1), 45-69. (online)(diunduh pada 7 Maret 2017).Lindstrom,Christine.

and Sharma, Manjula D. 2011. Self-efficacy of First YearUniversity Physics Student: Do Gender and Prior Formal Instruction in PhysicsMatter?”. International Journal of Innovation in Science and MathematicsEducation, 19(2), 1-19. (online)(diunduh pada 1 Maret 2017).

Makmun, H. Abid Syamsudin. 2000. Psikologi Kependidikan: Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya. Mustachfidoh,Dkk.

2013. Pengaruh Model PembelajaranInkuiri Terhadap Prestasi Belajar Biologi Ditinjau dari Inteligensi Siswa SMANegeri 1 Srono. E-Journal Program Pascasarjana Universitas PendidikanGanesha. (Online) Volume 3 Tahun 2013.

(diunduh pada 2 Desember 2016).NanaSudjana. 2009.

Penilaian Hasil ProsesBelajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Nissen,Jayson M. Et Al. 2016. Gender, Experience, and Self-efficacy in IntroductoryPhysics. Physical Review PhysicsEducation Research 12, 020105.

Pedaste,  Margus. Et Al. 2015. Phases of Inquiry-Based Learning:Definitions and the Inquiry Cycle. EducationalResearch Review 14 (2015) 47–61.

Tersedia: http://www.Sciencedirect.Com/ (diunduh pada 9 Desember 2016 ).PeraturanMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah (Salinan)PeraturanMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014Tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Salinan)Puspita, Wita Ratna. 2016. Upaya Meningkatkan Self-efficacy MelaluiMidle Learning Cycle 5E pada Pokok Bahasan Perbandingan.

Jurnal Pendidikan,(Online), ISBN. 978-602-73403-1-2,(diunduh pada 9 Desember 2016).Rahayu, Setyorini Puji. danSyarief, Sri Hidayati. 2015.

PenerapanModel Pembelajran Inkuiri untuk Meningkatkan Self-efficacy Siswa pada MateriPokok Laju Reaksi Kelas XI-MIA di SMA Muhammadiyah 4 Sidayu Gresik.(Online) Unesa Journal OfChemical Education Vol.4, No.1, Pp.

49-55, January 2015 ISSN: 2252-9454(diunduh pada 4 Januari 2017)Rais, M. 2010. Project-BasedLearning: Inovasi Pembelajaran yang Berorientasi Soft Skills. Makalah.Disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Teknologi dan Kejuruan FakultasTeknik Universitas Negeri Surabaya, Tanggal 11 Desember 2010 di Surabaya.Setyawati, Lutvia Resta. 2016.

AnalisisPersamaan dan Perbedaan Model Pembelajaran Inquiry, Discovery, Problem BasedLearning, dan Project Based Learning. Universitas Pendidikan Indonesia:Departemen Pendidikan Geografi. (Online).

Suprapto,Nadi. et al. 2017. Conception of LearningPhysics and Self-efficacy Among Indonesian University Student. Journal ofBaltic Science Education.

ISSN 1648-3898. (online) (diunduh pada 1 Maret 2017).Tenaw,Yazachew Alemu. 2013. RelationshipBetween Self-efficacy, Academic Achievement and Gender in Analitycal Chemistryat Debre Markos College of Teacher Education. AJCE, 2013, 3(1). ISSN2227-5835.

(online) (diunduh pada 1 Maret 2017). 

x

Hi!
I'm Katy!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out