Sustainable kemiskinan bisa dinilai secara subjektif dan juga

Sustainable Development Goals (SDGs) atau
dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah
17 tujuan telah ditentukan oleh PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) sebagai agenda dunia
pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan juga tempat tinggalnya yaitu planet
bumi. Agenda pembangunan berkelanjutan ini dibuat oleh PBB untuk menjawab
tuntutan kepemimpinan dunia dalam mengatasi kemiskinan, kesenjangan, perubahan
lain, dan masalah lainnya, dalam bentuk aksi yang nyata. Agenda ini dibuat pada
tahun 2012 dengan menetapkan rangkaian tujuan yang bisa diaplikasikan secara
universal oleh semua orang dan dapat diukur dalam menyeimbangkan tiga dimensi
pembangunan berkelanjutan, yaitu lingkungan, sosial, dan ekonomi. SDGs ini akan menjadi tuntunan kebijakan
dan pendanaan sampai tahun 2030.

            Salah
satu tujuan dalam 17 Target Pembangunan Berkelanjutan ini adalah Tanpa
Kemiskinan (No Poverty). SDGs yang pertama ini memiliki tujuan
untuk mengentaskan atau menyelesaikan segala bentuk permasalahan yang
berhubungan dengan kemiskinan di semua tempat. Kemiskinan sendiri sudah terjadi
dimana-mana termasuk di Indonesia. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya
dalam menghapuskan kemiskinan di Indonesia. Namun sayangnya, hal seperti
mewujudkan dunia tanpa kemiskinan di Indonesia sendiri cukup sulit. Banyak hal
yang kemudian menjadi alasan betapa sulitnya menghapuskan permasalahan
tersebut.

            Oleh
karena itu, hal tersebut melatarbelakangi penulis dalam membuat makalah
mengenai kemiskinan. Dimulai dari apa itu kemiskinan dalam artian luas, faktor
yang mempengaruhinya, hingga kemiskinan dalam pandangan Islam.

I.2 RUMUSAN MASALAH

            Berdasarkan
pemaparan latar belakang tersebut, penulis merumuskan beberapa permasalahan
yang menyangkut topik mengenai kemiskinan

1.      Apa
itu kemiskinan?

2.      Bagaimana
pandangan para ahli mengenai kemiskinan?

3.      Apa
saja faktor yang mempengaruhi kemiskinan?

4.      Bagaimana
pandangan Islam mengenai kemiskinan?

5.      Bagaimana
cara Islam dalam menuntaskan kemiskinan?

I.3 TUJUAN DAN MANFAAT

Penulis
menyusun makalah mengenai kemiskinan dan ara mengatasinya dalam pandangan Islam
ini bertujuan untuk memenuhi penilaian akhir Mata Kuliah Tahap Pembelajaran
Bersama. Di samping itu, penulis juga memiliki tujuan untuk memberikan wawasan
lebih mengenai kemiskinan yang sebenarnya. Dan manfaat dari pembuatan makalah
ini adalah agar kita semua tahu apa yang dimaknai dari kata kemiskinan sehingga
kita dapat membantu mewujudkan salah satu tujuan dari Sustainable Development Goals dari PBB yaitu No Poverty.

 

BAB
II

PEMBAHASAN

II.1 KEMISKINAN

Kemiskinan
merupakan fenomena sosial yang sering dijumpai terutama di negara kita,
Indonesia. Kemiskinan sudah bukan menjadi hal yang janggal di negara ini. Hal seperti
kemiskinan seakan menjadi tontonan sehari-hari mengingat banyaknya orang yang
miskin di berbagai daerah terutama di lingkungan tempat tinggal. Untuk menilai
apakah seseorang itu miskin atau tidak, kita tidak bisa hanya menilai atau
melihat dari salah satu aspek saja. Karena, pengertian kemiskinan itu bisa
berbeda, tergantung dari faktor apa yang dinilai, bagaimana cara seseorang
menilai kemiskinan, dan siapa yang sedang menilai sebuah tingkat kemiskinan itu
sendiri. Karena itu, kemiskinan bisa dinilai secara subjektif dan juga
objektif.

Ketika
di wilayah perkotaan, banyak mobil berlalu-lalang di jalanan. Mobil-mobil mewah
menghiasi jalanan perkotaan. Berlawanan dari itu, di pinggir jalan, ada seseorang
dengan pakaian lusuh, sedang melihat mobil-mobil mewah itu melintas di
hadapannya. Orang yang sedang duduk di pinggir jalan itu kemudian bisa kita
anggap sebagai orang miskin. Ada pula seseorang yang sedang sakit ringan, batuk
misalnya, ia tidak ambil pusing dan segera pergi berobat ke rumah sakit dimana
ia bertemu dengan dokter. Sedangkan ada orang kedua dimana ia sudah sakit
radang paru-paru kronis, karena ia tidak memiliki uang dan sulitnya
transportasi untuk pergi dan berobat ke dokter, akhirnya ia hanya berdiam diri
di rumah, merawat dirinya sendiri dengan alat sederhana dan apa adanya. Orang
kedua ini kemudian bisa juga kita sebut sebagai orang miskin.

Dewasa
ini, pengertian dari kemiskinan sudah meluas. Bukan lagi hanya terpaut pada
kurangnya seseorang dalam hal ekonomi. Namun bisa juga keadaan seseorang yang
kurang dalam bidang lainnya seperti sosial, politik, kesehatan, dan juga
pendidikan.

Kemiskinan
terbentuk dari kata dasar miskin yang diberi awalan ke- dan akhiran –an.
Kemudian bersatu membentuk sebuah kata yang kita kenal sebagai kemiskinan. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, miskin berarti tidak berharta;
serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Sementara
untuk kemiskinan sendiri dapat diartikan sebagai hal miskin; keadaan miskin;
atau dikatakan sebagai situasi penduduk atau sebagian penduduk
yang hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan perumahan yang sangat
diperlukan untuk mempertahankan tingkat kehidupan yang minimum.

Adapula kata fakir. Dimana dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, fakir diartikan sebagai orang yang sangat berkekurangan; orang yang
terlalu miskin. Kemudian, merupakan orang yang dengan sengaja membuat dirinya
menderita kekurangan untuk mecapai kesempurnaan batin. Kemudian, ketika kata
fakir disandingkan dengan kata miskin, maka dapat diartikan sebagai orang-orang
yang sangat kekurangan.

II.2 KEMISKINAN
MENURUT PARA AHLI

Menurut Nallari
& Griffith (2011) miskin berarti memiliki jumlah yang sangat kecil dari
sesuatu; dan miskin sebagai tidak baik dalam segi kualitas maupun kondisi. Sajogyo
dalam Hadi Prayitno & Lincolin Arsyad (1986:7) menyatakan bahwa kemiskinan
merupakan suatu tingkat kehidupan yang berada di bawah standar kebutuhan hidup
minimum yang ditetapkan berdasarkan atas kebutuhan pokok pangan yang membuat
orang cukup bekerja dan hidup sehat, juga berdasarkan atas kebutuhan beras dan
kebutuhan gizi.

Sajogya dalam Bagong Suyanto (2013:4), membuat suatu batasan
bagi kemiskinan.  Untuk daerah perkotaan,
seseorang disebut miskin apabila mengkonsumsi beras kurang dari 420 kilogram
per tahunnya. Sedangkan untuk daerah pedesaan, seseorang disebut miskin apabila
mengonsumsi beras kurang dari 320 kilogram. Kemudian disebut miskin sekali jika
mengonsumsi beras 240 kilogram, dan yang paling miskin adalah jika mengonsumsi
beras kurang dari 180 kilogram per tahunnya.

Chambers (2006) kemudian berpendapat bahwa pengertian
kemiskinan bergantung kepada siapa yang bertanya, bagaimana hal tersebut
dimaknai, dan juga siapa yang diajak berbicara. Hal tersebut kemudian dapat
mengelompokkan kemiskinan menjadi beberapa macam. Salah satunya, ada yang
menjelaskan kemiskinan dengan konsep yang luas, mencakup multidimensi. Multi
dimensi tersebut mewakili dua belas macam kekurangan yang kemudian saling
berkaitan dan saling melengkapi. Kedua belas dimensi tersebut adalah dimensi
pendidikan atau kemampuan, institusi dan akses, waktu, musim, tempat tinggal
atau lokasi, keamanan, ketidakmampuan fisik, material, hubungan sosial, hukum,
kekuasaan politik, serta informasi. Berbagai penelitian kemudian dilakukan
untuk mempersingkat dan mengurangi jumlah edua belas dimensi tersebut sehingga
konsep kemiskinan sekarang dapat diartikan ke dalam lingkup yang lebih spesifik
sebagai individu yang berada pada kondisi yang kurang baik, rentan,
terpinggirkan, memiliki akses yang minim, terhadap pendidikan, sosial, hukum,
dan sumber daya yang lainnya.

II.3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KEMISKINAN

Kemiskinan dapat terjadi dikarenakan
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut kemudian dibedakan
menjadi faktor internal yang berarti faktor dari dalam diri orang yang menjadi
subjek, dan faktor eksternal atau faktor dari luar atau dari lingkungan tempat
si subjek berada. Berikut ini merupakan contoh-contohnya.

1.      Faktor Internal :

·        
Sikap
serta pola pikir yang rendah

·        
Kurangnya
wawasan atau ilmu pengetahuan

·        
Kurang
memiliki keterampilan dan kreatifitas

·        
Tidak
memiliki inisiatif

·        
Takut
untuk mencoba hal-hal baru

·        
Tidak
belajar dari pengalaman, entah itu pengalaman sendiri maupun orang lain

·        
Memiliki
pola hidup yang konsumtif

2.      Faktor Eksternal :

·        
Terbelenggu
ikatan adat istiadat setempat.

·        
Jumlah
penduduk yang semakin banyak sehingga tingkat persaingan semakin tinggi

·        
Kurangnya
lapangan pekerjaan yang tersedia

·        
Bencana
alam

·        
Terkena
bencana lain seperti mengalami kebangkrutan

·        
Perkembangan
teknologi yang pesat

II.4 KEMISKINAN DALAM PANDANGAN
ISLAM

Ada pendapat mengenai kemiskinan dalam pandangan
islam. Pendapat tersebut datang dari seorang ulama kontemporer yang bernama
Yusuf Qardhawi. Beliau mengatakan bahwa dalam pandangan islam, tidak dapat
dibenarkan seseorang yang hidup di tengah-tengah masyarakat islam, walaupun ia
warga non-muslim, untuk menderita kelaparan, tidak memiliki pakaian, tidak
memiliki tempat tinggal yang pantas, dan hidup membujang (seorang laki-laki
yang tidak beristri). Kemudian, ulama tersebut juga mengatakan bahwa biaya
pengobatan serta biaya pendidikan termasuk kedalam kebutuhan primer yang wajib
dipenuhi oleh semua orang.

Ada beberapa istilah kemiskinan dalam
Al-Qur’an. Diantaranya adalah:

a.       Al-ba’sa
berarti
kemiskinan karena peperangan.

b.      Al-sa’il
adalah
orang yang menghendaki atau menginginkan suatu pengetahuan dan meminta yang
berupa materi, bisa berwujud uang atau harta benda yang lain. Atau pengertian
lainnya, kemiskinan dalam bidang pendidikan.

c.       Al-dhatf
berarti
orang yang lemah disebabkan oleh jiwa, badan dan keadaan atau situasi yang
berhubungan dengannya.

d.      Al-‘ailah
adalah
orang yang mengalami kemiskinan dan membutuhkan, yang kekurangan anggota badan.

e.       Al-qani’
adalah
orang yang miskin namun ia mencukupkan apa yang diperolehnya tanpa suka
meminta-minta.

f.       Al-mahrum
adalah
orang yang memperoleh harta dengan cara yang tidak halal dan tidak mencukupi.

g.      Al-mu’tar
orang
yang kekurangan mau mendatangi orang lain untuk meminta.

h.      Al-imlaq
adalah
orang yang kemiskinan harta dikarenakan yang dibelanjakan melebihi kemampuan
yang didapat, sehingga seakan-akan ia tak berdaya.

i.       
Al-miskin adalah
orang yang mempunyai pekerjaan tetap, namun tidak mencukupi untuk memenuhi
kebutuhannya.

j.       
Al-faqir adalah
tidak mempunyai pekerjaan tetap, namun tidak mencukupi untuk memenuhi
kebutuhannya.

Kemudian, berikut ini adalah pengertian
islam menurut para mufassir atau orang yang menafsirkan Al-Quran.

1.      Al-Maraghi,
menyebutkan bahwa miskin adalah
orang yang tidak mempunyai sesuatu, sehingga kekurangan makan dan pakaian.

2.      Jalal
aI-Din Muhammad bin Ahmad al-Mahalli dan Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman bin Abi
Bakr al-Suyuth, mengatakan bahwa seseorang dikatakan miskin apabila orang
tersebut tidak dapat mencukupi kebutuhannya.

3.      Sedangkan
menurut Mahmud bin ‘Umar al-Zamarksyart al-Khawarizm, miskin adalah seorang
yang selalu tidak bisa apa-apa atau tidak bisa melakukan sesuatu terhadap orang
lain karena dirinya tidak mempunyai sesuatu.

Penjelasan dari
sebagian para mufassir tersebut pada intinya adalah sama, yaitu orang miskin
adalah orang yang mempunyai kekurangan dalam memenuhi kebutuhannya untuk
keperluan sehari-hari dalam hidupnya. Orang miskin tidak hanya seseorang yang
tidak memiliki pekerjaan kemudian hidup meminta-minta. Ada juga orang miskin
yang mempunyai pekerjaan tetap, namun penghasilannya itu tidak mencukupi
kebutuhan sehari-harinya.

II.5
MENGATASI KEMISKINAN MENURUT AGAMA ISLAM

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan
hal berikut untuk mengatasi kemiskinan. Tujuannya adalah untuk  menyelamatkan akidah, akhlak, dan amal
perbuatan, serta memelihara kehidupan rumah tangga dan melindungi kestabilan
serta ketentraman masyarakat. Di samping itu, juga bertujuan untuk menjaga jiwa
persaudaraan antar kaum muslimin.

1.     
BEKERJA.

????? ??????? ?????? ?????? ????????? ????????
????????? ??? ???????????? ???????? ???? ???????? ?????????? ??????????

“Dialah Yang
menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan
makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali
setelah) dibangkitkan” (QS. Al Mulk: 15)

Mencari nafkah merupakan hal yang utama dalam mengatasi
kemiskinan. Bekerja adalah sarana pokok untuk memperoleh kekayaan. Dalam islam,
kita dianjurkan untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam melakukan
sesuatu. Tentunya bekerja dengan cara yang diridhoi Allah S.W.T. Sisanya, kita
berdoa dan berserah diri kepada-Nya, apapun hasil yang akan didapat nantinya.

2.     
MENCUKUPI KELUARGA YANG LEMAH

Islam mewajibkan orang-orang yang berkecukupan
untuk memberikan nafkah bagi keluarganya yang tidak mampu. Karena itu, sebagian
hak setiap orang miskin yang Muslim adalah mengajukan tuntutan nafkah kepada
keluarganya yang kaya.

3.     
ZAKAT

???????? ???????????? ?????????????
??????????????? ??????????????? ????????? ???????????????? ??????????? ?????
?????????? ??????????????? ????? ??????? ??????? ??????? ?????????? ? ?????????
???? ??????? ? ????????? ??????? ???????

Sesungguhnya
zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk
(memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk
mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan
Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. At-Taubah:60)

Zakat dalam pandangan Islam, merupakan suatu hak
bagi orang mampu untuk dibayarkan dimana nantinya akan diterima oleh
orang-orang yang membutuhkan.

4.     
KEHARUSAN MEMENUHI HAK-HAK SELAIN ZAKAT

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,

?????? ??????????? ???? ????? ????????? ????????? ??????? ????????
??????? ?????? ????????

Dimana artinya adalah: “Tidak patut dinamakan orang yang beriman,
orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya yang berada
di sampingnya menderita lapar, padahal ia mengetahuinya.”

            Ada hal lain yang
harus menjadi perhatian bagi orang muslim yang mampu, yaitu berkurban, memberi
makan dan penghidupan yang layak bagi orang miskin, membagi makanan yang
berlebih kepada orang lain, serta bersedekah sebanyak apapun jumlahnya.

 

 

BAB III

PENUTUP

III.1 KESIMPULAN

            Berdasarkan penjelasan yang sudah
dipaparkan, kemiskinan merupakan suatu masalah yang sifatnya universal atau
mendunia dikarenakan masalah ini terjadi di berbagai negara belahan dunia. Oleh
karena itu, PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa menetapkan Kemiskinan sebagai suatu
masalah yang harus segera diatasi oleh seluruh negara. Hal tersebut demi
mewujudkan salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu
No Poverty. Jika tujuan ini bisa
tercapai, maka kita dapat menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.

III.2 SARAN

            Untuk mewujudkan dunia tanpa
kemiskinan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh seseorang, pemerintahan
suatu negara, bahkan dunia. Dalam Islam sendiri juga telah dijelaskan dalam
beberapa ayat di Al-Quran serta hadist berbagai upaya untuk mengatasi masalah
kemiskinan ini. Kita sebagai seorang pemuda, kita semua sebagai manusia yang
memiliki ilmu, sudah sepatutnya untuk ikut serta dalam mengatasi masalah
kemiskinan ini.